Monday, July 18, 2011

Hanzalah: Yang Dimandikan Malaikat

Malam telah menyelimuti kota Madinah Al Munawwarah, bintang -bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan serta mimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu . Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah naik ke pelaminan.

Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud. Hanzhalah minta izin kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan kemantennya.

Manis macam apakah yang ada pada malam itu ? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah? Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad.
Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan Akhirat Akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya.

Waktu itu Hanzhalah Radiallahuanhu masih Junub, belum sempat mandi besar, melesat memenuhi seruan kebenaran, serta melayang tidak menginjak bumi, Sepasang penganten malam itu melesat dengan membawa senjatanya untuk bergabung dengan Nabi Shalallahu alaihi was salam yang sedang menyiapkan barisan Muslimin, meyiapkan hati untuk melakukan transaksi dijalan Allah Hanzhalah masuk pasar surga .

Perang sangat dahsyat berkemilau dengan serunya pada awalnya kemenagan diraih tapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju.

Akan tetapi beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah Shalallahu alihi wa salam, termasuk di dalamnya Hanzhalah Dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. Dia maju menghadap Abu Sofyan bin Harb Dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sofyan dari belakang sehingga Abu Sofyan terjatuh dia menjatuhkannya dari atas kudanya seakan-akan dia menjatuhkan kebathilan yang telah mencuri kebenaran dan kebathilan yang mengacau akidahnya Pada saat itu datanglah Syaddad bin Al Aswad membantu Abu Sofyan melawan Hanzhalah Radiallahuanhu, untuk kemudian salah satu dari dua orang itu bisa membunuh hati yang bersih dengan lemparan lembing yang tembus Abu Sofyan berteriak " Hanzhalah dengan Hanzhalah yang maksudnya dia telah membalaskan dendam anaknya yang terbunuh dalam perang Badar Hanzhalah Radiallahuanhu meninggalkan kita, tetapi bau wangi misik darinya tetap semerbak menyirami jiwa-jiwa generasi sesudahnya agar jiwa yang sedang tertidur menjadi bangkit dengan harapan suatu ketika akan menunggangi kuda-kuda Syahid.

Tanah menjadi suci dengan kemanten kita tadi lalu perang usai mereka yang telah melakukan transaksi telah menjajakan semua barangnya mereka membawa hati mereka dalam genggaman Untuk diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta'ala sesuai dengan kehendak-Nya.

Mereka yakin bahwa kesungguhan / kejujuran pada waktu itu adalah kekayaan yang paling berharga. Dan siapa yang sungguh- sungguh jujur dengan Allah tidak akan sia-sia.
Para Sahabat Radiallahuanhu yang masih tersisa mulai mencari saudara-saudara mereka yang masih menanti janji dari langit memilah-milah siapa yang lebih dahulu ke langit. Tangan mereka yang berusaha menyentuh jasad Hanzhalah Radiallahuanhu yang berlumur darah mereka kagum adanya rintik rintik air mengalir dari dahinya seperti butiran-butiran mutiara dan berjatuhan dari sela-sela rambutnya. Ini tentu menjadi misteri Apa maksudnya sampai kemudian para sahabat mendengar suara Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda : "Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak.

Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dengan mendapatkan harga surga Selamat wahai anda Hanzhalah anda telah mendapat surga orang-orang Aus, Suku Hanzhalah sangat bangga dengannya karena dari suku mereka ada yang dimandikan Malaikat
Sesungguhnya Hanzhalah akan tetap menjadi kebanggaan dan terpatri dalam dada kaum muslimin bukan hanya untuk Aus saja! Semoga Allah ridha terhadap Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu. (kis) www.suaramedia.com


Handzalah - Lirik Lagu Rabbani

Relakanlah perpisahan kita ini
Iringailah pemergian daku nnti
Dengan doa yang tidak berhenti
Moga Islam terus berdiri

Usapilah genang airmata kasih
Senyuamanmu penguat semangat daku
Andai kita tak jumpa lagi
Ku semai cintamu di syurga

Bepisahlah dua jiwa
Meninggalkan kuntum cinta
Mekar di istama taqwa
Menyahut panggilan Allah

Dengan nama Mu Allah yang Maha Gagah
Langkah ku atur pasrah daku berserah
Menangkanlah kaum Muslilin
Hancurkanlah kaum musyrikin

Demi Islam ditegakkan

Hanzalah pergi ke medan jihad
Bersama dengan para sahabat
Bertempur hebat penuh semangat
Sehingga dia syahid akhirnya

Turunlah Malaikat ke bumi
Mandikan jasadnya simpati
Sucilah jasadnya mewangi
Diarak rohnya ke firdausi

Hening malam menyaksikan
Korban cinta dua insan
Baru diijab kabulkan
Rela menyahut seruan
Demi islam ditegakkan
Jihad menjadi pilihan

Tuesday, July 12, 2011

Ikhtilat...Ikhwah...Akhawat

Ikhtilat merupakan suatu bentuk pergaulan secara bebas yang melibatkan lelaki dan perempuan yang ajnabi. Ia merupakan suatu bentuk pergaulan yang ditegah oleh Islam. Sesungguhnya mengambil mudah persoalan ikhtilat boleh membuka ruang maksiat yang berleluasa dalam masyarakat tanpa kita sedari.

Tambahan kemajuan era teknologi sekarang, ikhtilat bukan sahaja melibatkan perjumpaan antara lelaki dan perempuan yang ajnabi malah dengan kemudahan yang ada sepertiYahoo Messenger, SMS, e-mail, dan Friendster. Jarak yang jauh didekatkan, masa yang berbeza tidak menjadi masalah begitu juga dengan kos perhubungan. Budaya ini terus menjadi darah daging masyarakat kita terutama remaja-remaja.


Kadang kala perhubungan dimulakan atas dasar kerja tetapi akhirnya melarat kepada perkongsian peribadi bukan perkongsian kepakaran. Maka tenggelamlah konsep 'kerja adalah kerja, peribadi adalah peribadi'. Kononnya hendak memahami dan mewujudkan keserasian dalam bekerja. Seolah-olah kita mencari keredhaan manusia dalam kemurkaan Allah.

Apabila wujud golongan yang menegah dan menunjukkan kaedah muamalat yang selari dengan syariat Islam maka timbullah konsep SYADID. Sememangnya Islam itu mudah dan tidak membebankan tapi tidak bermakna kita layak untuk mempermudah-mudahkan syariat Islam.

Adakah salah seorang nisa' dan rijal menjaga maruah dan pergaulannya. Bercakap, berurusan, berjumpa dan berbincang atas keperluan? Adakah salah bagi seorang nisa' terutamanya menegaskan suaranya dan menjaga pandangan demi menjaga maruah dirinya.

Dalam Al-Quran ada menyebut: "Katakanlah kepada lelaki-lelaki dari orang-orang beriman supaya menahan pandangan mereka serta menjaga kehormatan mereka dan katakanlah kepada perempuan-perempuan dari orang-orang yang beriman supaya menahan penglihatan mereka serta menjaga kehormatan mereka." (An-Nur:31)

Apabila rijal dan nisa' berjumpa tidak kira atas apa jua keperluan dan keadaan perlulah berteman bertepatan dengan sabda Rasulullah SAW: "Tiada akan menyendiri seorang lelaki dan seorang perempuan itu melainkan syaitan akan menjadi orang yang ketiga."

Ada yang menimbulkan alasan malas menyusahkan rakan untuk menemankan kita. Malas nak tunggu rakan. Malas itu malas ini. Besar sangatkah malas kita berbanding arahan Allah dalam Al-Quran? Tegarkah kita melawan syariatNya.

Syariat Islam turut menyarankan kepada kita untuk menundukkan pandangan. Bukan sahaja haram melihat aurat bukan muhrim malahan bahagian-bahagian bukan aurat turut dilarang. Sabda Rasulullah SAW: "Wahai Ali janganlah pandangan (yang kedua) menuruti pandangan (yang pertama) kerana sesungguhnya pandangan pertama itu adalah bagimu sedang yang kedua tidak (berdosa)."

Kalau dah bergaul dan bercampur bebas masakan kita mampu menahan dan menjaga pandangan. Usah menegakkan benang yang sememangnya basah. Ana bukanlah nak menghukum tanpa memberikan jalan penyelesaian. Jom kita berkongsi tip-tip berurusan dengan bukan muhrim:

1.
Elakkan berhubungan dengan lelaki. Kalau ada peluang untuk minta bantuan dari nisa' (bagi nisa') dan rijal (bagi rijal), mintalah tolong mereka. Lainlah benda-benda di luar kudrat kita contohnya apabila nisa' minta bantuan rijal soal baiki latop, kereta dan perkara-perkara yang tak mampu dilakukan nisa'. Silalah mempergunakan kemahiran dan kepakaran yang ada. Begitu jugalah sebaliknya bagi rijal.

2.
Andai terpaksa berhubung dengan bukan muhrim gunakanlah perantaraan berbentuk tulisan seperti sms, nota kecil dan sebagainya. Ringkaskan dan padatkan ayat-ayat. Tak perlulah meletakkan ikon senyum yang sememangnya comel. Tak perlu disertakan dengan gelak ketawa seperti huhu, haha, hihi, hikhik. Seolah –olah kanak-kanak tadika mengajar mengeja. Apatah lagi benda-benda lain yang kurang berfaedah.

Andai terdesak sangat untuk bercakap melalui telefon, jagalah suara anda terutama nisa' selari dengan tuntutan Al-Quran:
"Wahai isteri2 nabi, kamu bukanlah seperti perempuan-perempuan lain jika kamu bertaqwa. Maka janganlah lemah lembutkan suara dalam berbicara, sehingga bangkit nafsu org yang ada penyakit dlm hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan yg baik." Takkanlah nak tunggu Allah menempelak kita dengan balaNya?

3. Tundukkan hati. Sepatutnya apabila kita berurusan dengan bukan muhrim kita perlu risaukan kemurkaanNya. Banyak-banyaklah berdoa semoga urusan dipermudahkan dan bebas daripada fitnah. Minta dariNya supaya dipelihara daripada panahan syaitan.


4. Tundukan pandangan. Jangan tertipu dgn matapelajaran kaedah berkomunikasi yang kita belajar "make eye contact with the person you're talking to". Melainkan dengan kaum sejenis. Teramatlah disarankan demi membina ukhwah yang kukuh. Berwaspada dengan konsep "dari mata turun ke hati". Tak bermakna tundukan pandangan sehingga jalan terlanggar tiang.

5.
Mempercepatkan urusan. Apabila ada urusan, segerakanlah kerja. Tak perlulah sampai hendak berkongsi hal peribadi, luahan hati, gelak ketawa dan sebagainya yang tidak penting. Berbincanglah di tempat yang sesuai dan segerakan urusan. Jangan lupa peneman anda.

Teringat satu mail yang ana dapat mengenai luahan rijal. Jom kita kongsi bersama. Insya Allah ada manfaatnya.


"Lalu apa yang telah aku lakukan selama ini...Ya Rabb...tolong ampuni aku...untuk setiap pandangan yang tak terjaga, lisan yang merayu dan hati yang tak terhijab... Ya Rabb...Engkau mengawasi kami tiap detik, karena kasih sayangMu kepada kami Engkau perintahkan malaikat silih berganti menemani kami siang dan malam..."

Semoga ia menjadi peringatan bagi kita. Semoga kita dapat mewujudkan biah solehah dalam keredhaanNya. Peringatan untuk diri yang lemah dan banyak kesilapan serta kekurangan dan sahabat-sahabat Islam yang dikasihi.

"Elakkanlah berhubung tanpa urusan yang benar2 penting dengan wanita2 (berlawanan jantina) kerana di situlah letaknya jalan SYAITAN".

Sumber: iluvislam.com

Saturday, July 2, 2011

Ibrah Isra' Mikraj

Ibrah Isra’ Mikraj

1. Perbezaan tarikh. Kita diminta untuk menyibukkan diri untuk mengambil iktibar dari peristiwa ini. Bukan sibuk mempertikaikan tarikhnya. Hukum menyambut israk mikraj sebenarnya ‘tak ada dalil pun nabi melarang’. Sunnah menyambutnya selagi ianya tidak bertentangan dgn syarak. Kita sepatutnya berasa gembira jika ada usaha untuk meraikannya kerana kemuliaan hari tersebut.

2. Perkataan “Mengisrakan hamba2-Nya”. Ada kelebihan pada Muhammad iaitu sifat kehambaannya yg paling tinggi. Sebab itu baginda diangkat ke langit. Peristiwa di Thaif menunjukkan sifat kehambaan baginda. 2 adab yg setiap pendakwah perlu ada untuk mencontohi Rasulullah saw. Pertama ialah apabila menghadapi dugaan mestilah mengadu pada Allah dahulu. Daie kena menilai kelemahan diri jika menghadapi kesukaran dalam berdakwah bukan menyalahkan orang lain. Yakin diri yang tugas kita hanya menyeru, yang meberi hidayah ialah Allah. Keduanya, ialah kesabaran dalam berdakwah.

3. Pembuktian Allah tentang kesukaran dan kesenangan yang disebut dalam Al-Quran. Apabila Nabi ditentang oleh kaumnya, Allah menghadiahkan Israk mikraj sebagai satu kesenangan selepas nabi mengalami kepayahan.

4. Tentang keyakinan terhadap apa yang berlaku tanpa sebarang rasa ragu-ragu. Apa sahaja yang sampai daripada Nabi hendaklah mempercayainya dan mengikutinya. Ini termasuklah apa yang disuruh dan apa yang dilarang. Yakin itulah yang terbaik untuk kita.

5. Kedudukan masjidil Aqsa yang ditarik oleh Allah daripada Yahudi untuk diberikan kepada umat Islam pada satu ketika dahulu. Perlu kita mempertahankannya dengan beberapa cara. Pertama, kalau seseorang islam itu mendapat jalan atau jalan keselamatan untuk dia pergi ke sana, wajib fardhu ain untuk pergi. Orang yang mempertahankannya dikira jihad. Kedua, membantu dari sudut kemanusiaan. Seperti menghulurkan bantuan kesihatan. Jika tidak mampu, cukuplah sekadar ambil tahu.Yang terakhir, sentiasa berdoa untuk mereka.

6. Perkaitan dengan solat. Jaga solat kerana ianya nilai yang sangat tinggi di sisi Allah. Wajib kita menjaga solat walaupun dalam apa keadaan sekalipun.

klik gmbar utk besarkan..

wallahu'alam...
sumber: kuliah net@skype oleh Ustz Azrul Azuan bin Idris & fb di IPIJ Teknologi..:)

akan datang....

Tajuk: Mengutip Ibrah dari Peristiwa Isra' Mikraj
Tarikh: 5 Julai 2011 (Selasa, selepas maghrib)
Tempat: Surau Ar-Razi KTDI


"Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haaram (di Mekah) ke Masjidil Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui." (Al-Isra':1)

Sumber: FB ar razi musolla..
jom kita pergi ramai2!!